Ajaran Agama Dan Budaya dalam Menanggapi Panggilan Kemanusiaan

oleh Adventino Dwi Kurniawan

Di dunia yang begitu beragam ini, masalah kemanusiaan sudah menjadi sesuatu yang wajar. Kekurangsadaran manusia untuk saling membantu sesama belum menjadi prioritas utama setiap manusia. Selain itu, keberagaman yang ada seperti agama, budaya dan lainnya belum sepenuhnya mampu menjadi alat pemersatu umat manusia di  muka bumi ini.

Parahnya, perbedaan justru dijadikan penghambat untuk menuntaskan masalah kemanusiaan yang ada. Jonny Hutahaean dalam karangannya yang berjudul “Kemanusiaan dan Kesetanan” mendefinisikan kemanusiaan sebagai suatu hal tentang nilai-nilai yang dianut oleh manusia dalam kaitan hubungannya dengan sesama manusia, seperti toleransi, welas asih, cinta kasih, tolong menolong, gotong royong serta mendahulukan kepentingan umum, dan banyak lainnya.

Semua nilai itu adalah mengenai hubungan yang terjalin antara manusia dengan manusia lainnya (kompasiana.com, 2013). Dengan demikian, arti panggilan kemanusiaan sendiri ialah panggilan-panggilan kepada manusia untuk saling menghargai perbedaan yang ada di masyarakat, tolong menolong satu sama lain, dan membantu sesama khususnya mereka yang sedang membutuhkan.

Banyak masalah kemanusiaan yang terjadi di dunia ini, di antaranya ialah kemiskinan, kelaparan, perang, terorisme, dan masih banyak lagi.

Dewasa ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mampu memberikan berbagai macam kemudahan dalam pemenuhan hidup umat manusia. Karenanya, manusia cenderung berlomba-lomba pada pemenuhan materi yang tidak pernah habis. Kecenderungan inilah yang mendorong berkembangnya sikap dan gaya hidup hedonistik dan materialistik, yang menjadikan tujuan hidup mereka hanya untuk bersenang-senang saja, tanpa memedulikan sesamanya yang menderita.

Agama bukanlah sekadar urusan kehidupan sesudah kematian, tetapi juga dan terutama adalah sebuah pedoman bagi kehidupan manusia di dunia. Hampir setiap agama di dunia memiliki perbedaan dalam konsep ketuhanan. Meskipun demikian, sangat penting bagi umat beragama untuk saling bekerja sama mendorong perdamaian dunia dan menuntaskan masalah-masalah kemanusiaan.

Titik temu dari sebagian besar agama adalah kemanusiaan. Hampir semua agama di dunia pasti mengkampanyekan kebaikan dan kebenaran. Bukan sebaliknya, berperang dan merusak. Agama sejatinya memberikan cinta dan kebahagiaan kepada siapa saja, sehingga agama mampu menjadi rumah bagi kasih dan perdamaian.

Selain itu, agama juga mengajarkan manusia untuk hidup sesuai nilai-nilai kemanusiaan. Dalam agama Budha, misalnya,  diajarkan tentang kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan umat manusia dalam Hasta Arya Marga. Ajarannya mengajarkan prinsip-prinsip hidup yaitu menghindari dua hal terlarang, yang salah satunya yaitu menghalalkan segala cara untuk mencapai kebahagiaan.

Islam pun juga memiliki ajaran mengenai kemanusiaan, seperti untuk hidup di jalan yang benar (kebaikan, kebajikan) dan meninggalkan jalan yang buruk (kebatilan, kejahatan), saling menghormati dan menyayangi sesama manusia atau menjaga hubungan baik dengan sesama (hablum in-anas), dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi dan tulus.

Namun kenyataannya, karena perbedaan dalam penafsiran dan sempitnya pemahaman agama serta fanatisme agama yang sempit, ajaran-ajaran agama malah digunakan sebagai alat untuk menguntungkan diri sendiri atau kelompok, dan merugikan suatu kelompok. Dengan menyelewengkan ajaran-ajaran agama, banyak kelompok menghancurkan, merusak, membunuh, dan bahkan mengakhiri masa depan dari suatu bangsa (jalandamai.org, 2017).

Mereka yang melakukan hal tersebut seringkali tak peduli apakah hal itu sesuai atau bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan panggilan-panggilan kemanusian dalam ajaran agama. Dalam hal ini, orang-orang yang mengajarkan ajaran agama dan pemuka-pemuka agama berperan penting untuk mampu memberi ajaran-ajaran yang bernilai positif  dan berguna bagi kemanusiaan.

Pengaruh mereka terhadap umat agama tersebut sangatlah besar, apapun yang mereka katakan baik ajaran yang baik maupun buruk, kemungkinan besar akan diikuti oleh umatnya, hal ini dikarenakan mereka dianggap memiliki keunggulan baik dalam ilmu pengetahuan, integritas, dan lain sebagainya (kemenag.go.id).

Selain ajaran agama, budaya juga berpengaruh besar dalam menanggapi panggilan-panggilan kemanusiaan. Kata “budaya” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dibagi menjadi 4(empat) pengertian, yaitu “pikiran atau akal budi”, “adat istiadat”, “sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang”, dan sebuah cakapan “sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah”. Dapat disimpulkan bahwa budaya berarti suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Kaitan antara budaya dengan manusia ialah karena manusialah yang menciptakan budaya itu dan setelah budaya itu tercipta, maka budaya itu mengatur cara hidup manusia tersebut agar sesuai dengannya. Cara terbaik untuk membudayakan manusia untuk merespon panggilan-panggilan kemanusiaan ialah dengan membiasakannya sejak dini.

Contoh-contoh budaya yang dapat ditanamkan sejak dini adalah seperti budaya berbagi dan budaya untuk mengasihi. Budaya berbagi merupakan salah satu cara paling mudah dalam menanggapi panggilan kemanusiaan, kita tidak perlu menunggu kaya dahulu untuk membantu sesama yang kesusahan, apapun yang kita miliki, baik banyak atau sedikit, dapat kita gunakan untuk berbagi.

Berbagi tidak semata-mata dengan hal-hal materiel saja, tetapi dapat juga dengan berbagi kebahagiaan. Tujuan dari budaya berbagi sendiri adalah menginspirasi anak-anak muda untuk memiliki kebiasaan berbagi. Dengan semakin dikenalnya budaya berbagi oleh banyak orang, diharapkan masyarakat di dunia, khususnya masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan berbagi kepada sesama terutama orang yang membutuhkan.

Selain itu, budaya untuk mengasihi juga diperlukan, terlebih karena kasih merupakan sesuatu yang pasti dibutuhkan oleh setiap orang di dunia. Sebagai kesimpulannya, dalam menanggapi panggilan-panggilan kemanusiaan, tentu saja harus mengembangkan sikap percaya, niat, dan tekad untuk mengabdi kepada Tuhan.

Dalam hidup beragama, sebagai umat-Nya kita seharusnya tidak hanya beribadah dan menyembah kepada-Nya, melainkan juga menjalankan ajaran-ajaran agama khususnya dalam menanggapi panggilan-panggilan kemanusiaan. Selain itu, kita juga harus menangkap perkembangan pemikiran mengenai kehidupan berbudaya dan berperadaban, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, lalu mengambil dan mengamalkan bagian yang terbaik.

Meskipun berbeda agama, budaya, dan negara, semua orang pasti sama ketika bicara kemanusiaan. Dengan adanya panggilan-panggilan kemanusiaan, perbedaan dalam hal agama, budaya, dan sebagainya tidak lagi menjadi suatu halangan. Manusia pasti akan memberikan apapun daripadanya demi membantu mereka yang sedang kesusahan.

            Penulis adalah siswa SMA Negeri 3 kelas XI MIPA 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *