Menyontek – Tekanan untuk Sukses

oleh Muhammad Yus Aditiya Trisnawan

Ilustrasi siswa menyontek

 

”Kami semua . . . menyontek;

kami butuh nilai bagus supaya diterima di sekolah yang bermutu.

Kami murid yang baik dan bermoral; kami bukannya tidak beretika . . .

Kami ingin masuk ke universitas bergengsi.”  –American School Board Journal, 1997

 

Pernahkah kalian tergoda untuk diam- diam mengintip sekilas lembar jawaban teman sekelas sewaktu ujian? Apa motivasi kalian? Banyak siswa menganggap itu adalah hal yang biasa serta tidak menganggapnya sebagai problem yang serius. Menyontek memang bukan tindakan kejahatan yang perlu ditindak dengan sanksi yang berat, serta banyak pelaku bukanlah orang yang tidak bermoral serta taat beragama. Lantas apakah faktor-faktor apa saja yang menyebabkan integritas siswa terganggu?

  • Inilah yang menjadi faktor utama dalam ketidakjujuran. Seseorang yang sudah terbiasa tidak jujur, mencuri misalnya, akan sangat sulit untuk menghilangkannya karena mereka terbiasa mendapatkan sesuatu dengan cara instan, sehingga mereka akan merasa kesulitan dan suntuk apabila harus bekerja keras dalam memperoleh sesuatu. Demikian pula dalam menyontek, seperti dalam kutipan Bung Hatta, “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, namun tidak jujur sulit diperbaiki.”
  • Kurangnya kepercayaan diri. Percaya diri dalam ujian, tidak hanya sebatas yakin pada kemampuan diri sendiri, melainkan perlu juga tanpa ragu dan tanpa takut untuk mendapatkan hasil sesuai kemampuan mereka. Hal ini mendorong siswa untuk semakin bekerja keras dalam belajar dalam menggapai hasil. Selain itu kepercayaan diri juga berhubungan dengan tekanan yang di dapat seorang siswa, misalnya karena perasaan malu kepada teman-teman sekolah karena nilai jelek atau peringkat kelas yang berada di paling bawah. Perasaan takut dan malu adalah motivasi utama siswa dalam hilangnya kepercayaan diri sehingga kemungkinan untuk menyontek menjadi sangat tinggi.
  • Banyak orang tua dalam mendidik anak, terutama anak tunggal, mereka cenderung memaksakan kehendak untuk menjadi seperti yang orang tua inginkan. Misalnya ada orang tua yang terlalu menuntut anak untuk menjadi seorang dokter dan memaksakan anaknya untuk kuliah kedokteran, padahal sang anak ingin menjadi seorang seniman ataupun wirausahawan, sehingga saat mereka mengenyam pendidikan, anak sangat kesulitan dalam mengerjakan ujian yang tidak sesuai passion-nya, yang akan membuat kemungkinan menyontek lebih tinggi.
  • Tidak adanya anutan. Mengenai para siswa sekolah menengah, seorang professor mengatakan, yang dikutip dalam The New York Times, ”Kita mungkin tergoda untuk mengatakan bahwa mereka telah kehilangan kompas moral mereka…Mungkin yang lebih tepat adalah bahwa guru dan pembimbing mereka serta anggota masyarakat lainnya tidak pernah membantu mereka mengembangkan dan menggunakan kompas moral dalam diri mereka.
  • Praktek yang tidak sesuai dengan norma. Dalam sebuah penelitian atas hamper 30.000 pelajar, 98 % mengatakan bahwa mereka percaya pentingnya kejujuran dalam hubungan pribadi. Namun, 8 dari setiap 10 pelajar mengakui bahwa mereka telah berbohong kepada orang tua, dan 64 % mengaku menyontek dalam ujian pada tahun sebelumnya.

Dalam sebuah survey atas 20.000 mahasiswa tahun pertama di Kanada, 73 % “mengaku melakukan satu atau lebih tindak ketidakjujuran akademis yang serius dalam karya tulis mereka sewaktu di SMA”, (sumber: Canadian Council on Learning (CCL)/Dewan Pendidikan Kanada). Sebuah universitas melaporkan bahwa kasus menyontek dan menjiplak meningkat hingga 81 % antara tahun 2003 dan 2006. “Selama dasawarsa terakhir”, Dr. Paul Cappon, presiden CCL berkata, “internet dan berbagai peranti canggih telah membuat menyontek makin marak.”

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? Pendidikan di Indonesia sering sekali mendapat berita negatif mengenai integritas dalam proses seleksi-menyeleksi, misalnya saja dalam beberapa bulan, kita mendengar bahwa ada praktik curang menodai pelaksanaan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN STAN). Praktek curang itu dilakukan oleh 5 calon peserta SPMB PKN STAN di Makassar, Sulawesi Selatan, dalam dua waktu yang berbeda. Pelanggaran pertama dilakukan satu orang pada 29 Juni 2018, berikutnya pelanggaran kedua terjadi pada 30 Juni 2018 yang dilakukan 4 orang.

Dari situ kita sudah bisa melihat betapa banyaknya faktor ketidakjujuran yang terjadi di dunia pendidikan. Dan di Indonesia sendiri pun sudah terbukti bahwa tingkat integritas masih sangat rendah. Lantas apa dampak ketidakjujuran terhadap masa depan serta pengaruhnya bagi bangsa yang bercita-cita? Lagipula, faktor-faktor yang memotivasi ketidakjujuran siswa seperti yang disebutkan diatas, sudah tergambar jelas berupa alasan yang sifatnya negatif. Yaitu sifat mementingkan diri karena pelaku tidak dapat memahami perasaan mereka yang sudah belajar serta bekerja keras tetapi mendapat nilai dibawah mereka yang tidak jujur, dan praktek dilakukan secara sembunyi yang menunjukkan suatu tindakan yang bertentangan dengan hati nurani karena melanggar hukum moral. Jika faktor-faktor seseorang berbuat curang saja ada, maka pasti ada alasan untuk tetap jujur dan tergambar lebih jelas karena selaras dengan norma serta moral setiap individu.

Alasan untuk tetap jujur.

Apabila seseorang sudah memiliki motivasi untuk berbuat jujur, maka akan terdorong pula semangat untuk berusaha belajar agar hasil maksimal. Akan tetapi, dalam mencapai itu semua, masih ada beberapa halangan yang menyebabkan seseorang masih tidak percaya diri serta  mengandalkan contekan sebagai solusi untuk mendapatkan hasil yang baik. Berikut adalah cara agar kepercayaan diri tetap ada dalam diri masing-masing individu:

  • Tetapkan Prioritas. Apa yang dimaksud dengan menetapkan prioritas? Kita harus ingat bahwa seperti sudah dijelaskan, banyaknya kasus menyontek terjadi karena seseorang ingin mendapatkan nilai yang bagus tetapi kurang dalam belajar. Seringkali siswa beralasan tidak sempat atau sedang mempersiapkan waktu untuk kegiatan sekolah. Maka dari itu, selalu tetapkan prioritas mana yang harus didahulukan, jika mendahulukan untuk belajar mata pelajaran sekolah, maka kita percaya diri mendapat hasil yang memuaskan. Akan tetapi, apabila kita mendahulukan kegiatan sekolah atau hal yang lebih penting lainnya sehingga tidak memiliki waktu untuk belajar, kita juga harus berani menerima untuk mendapatkan berapapun hasilnya nanti, toh jika sama-sama untuk membanggakan sekolah atau orang tua mengapa harus takut apabila nilai jelek? Guru yang baik pasti akan memberi tambahan nilai bagi mereka yang sudah berusaha apalagi mempertahankan kejujuran.
  • Walau banyak siswa yang biasa jujur dan sudah belajar ataupun berusaha dalam mengerjakan soal, mental mereka seringkali down ketika mereka akan menghadapi ujian. Karena disaat-saat yang sebelumnya, nilai mereka selalu rendah dibanding yang tidak jujur. Hal ini dapat dibuktikan di SMA N 3 Salatiga, banyak yang sudah pesimis dan beberapa kali menanyakan kapan dan bagaimana soal untuk remidi kepada guru yang bersangkutan bahkan saat ujian mata pelajaran tersebut BELUM DIMULAI. Hal yang menggelikan ini juga membuat guru malas dalam membuat soal untuk perbaikan, “Saya itu jadi malas untuk membuat soal remidi, banyak yang sudah nanyain remidi padahal PAS-nya belum dimulai, gemes banget, mental kok mental remidi,” komentar salah satu guru Biologi SMA N 3 Salatiga saat Penilaian Akhir Semester Gasal kemarin. Walau sebelumnya mereka sudah berusaha, lama-kelamaan sikap semacam ini juga membuat siswa menjadi malas untuk belajar nantinya karena mereka menjadi bergantung pada perbaikan setelahnya. Kita juga perlu ingat bahwa tujuan kita belajar di sekolah adalah agar dapat meraih kesuksesan dalam bekerja di masa depan. Maka sikap optimis akan hasil yang baik perlu dipupuk terutama setelah kita sudah berusaha secara optimal agar integritas akan kejujuran selalu terjaga, mampu bekerja sama serta membantu pihak-pihak yang bersangkutan di sekolah atau pemerintah dalam mengembangkan sistem pendidikan yang lebih baik.

 

Dari kedua cara dalam menanggulangi hilangnya semangat untuk belajar seperti di atas, kita sebagai manusia yang berakal sehat, pastilah akan mampu mengambil nilai-nilai positif bahwa dari nilai-nilai tersebut apabila kita lakukan, kita juga akan terdorong dari dalam hati, sehingga kita memiliki motivasi dan alasan yang baik untuk tetap jujur. Betapa bahagianya apabila kita membayangkan kesuksesan yang besar di masa depan kelak serta memiliki peran dalam membangun bangsa yang besar serta mencetak individu yang sejahtera, mampu mengurangi bahkan melenyapkan kejahatan moral yang berhubungan dengan kejujuran seperti tindak pidana korupsi misalnya di negeri tercinta ini karena kita sudah dilatih untuk jujur dan berintegritas sejak dini.

Muhammad Yus Aditiya Trisnawan, siswa kelas XII IPA -3

 

Daftar Pustaka

Watch Tower Bible and Track Society of Pennsylvania. 2012. Awake! 8/12 hlm. 26-28. New York: Watch Tower Bible and Track Society of Pennsylvania.

 

Sunariyah. 2018. Terbongkar Praktik Curang Terjadi Saat Seleksi Masuk STAN, Pelaku 5 Orang. Diambil dari: https://www.liputan6.com/news/read/3580523/terbongkar-praktik-curang-terjadi-saat-seleksi-masuk-stan-pelaku-5-orang. (6 Juli 2018)

 

Watch Tower Bible and Track Society of Pennsylvania. 2003. Awake! 22/1 hlm. 13-15. New York: Watch Tower Bible and Track Society of Pennsylvania.

1 Comment:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *