Keluh Kesah di Akhir

oleh Andriani Dian Rawinanda

Siswa sedang belajar (ilustrasi)

Memasuki semester-semester akhir, para siswa kelas 12 sedang disibukkan dengan berbagai kegiatan, seperti USBN dan UNBK. Tak lupa juga dengan tugas mereka yang menumpuk, yakni ujian praktik dan tugas lainnya. Persiapan untuk menempuh ke jenjang pendidikan selanjutnya tak luput dari mereka.

Meskipun UN bukan lagi menjadi penentu kelulusan dan hanya terdapat tiga mata pelajaran wajib dengan satu mata pelajaran pilihan, namun tetap saja tidak bisa diabaikan begitu saja. Mereka harus tetap bekerja keras untuk mempertahankan indeks sekolah. Lalu ada lagi yang di pusingkan oleh anak kelas 12, USBN. Ujian ini tidak hanya satu atau dua mata pelajaran. Namun, semua mata pelajaran yang di ajarkan di sekolah.

Jika mereka ingin melanjutkan ke bangku perkuliahan mereka harus menghadapi berbagai seleksi mulai dari SNMPTN, SBMPTN, ataupun UM. Dalam SNMPTN pemerintah memberi kebijakan berupa kuota untuk pendaftar. Untuk sekolah Terakreditasi A 40% terbaik di sekolah, sedangkan sekolah di akreditasi B mendapatkan 25% dan akreditasi C serta lainnya sebesar 5%. Ini baru kuota untuk  mendaftar dan belum dipastikan lulus masuk universitas yang dituju. Maka dari itu siswa tetap diharapkan untuk tetap belajar guna menghadapi SBMPTN atau tes lain untuk masuk ke perguruan tinggi.

Hal ini belum selesai begitu saja. Banyak siswa yang masih bingung dengan jurusan pilihan mereka nantinya. Bahkan terkadang masih terjadi konflik batin dan jiwa dengan orang tua masing-masing peserta.  Biaya juga tidak kalah pentingnya. Biaya kuliah yang mahal juga menjadi beban finansial yang ditanggung oleh orang tua. Kadang, banyak siswa yang ingin melanjutkan ke perkuliahan dengan biaya yang mahal tanpa melihat hal-hal yang lain. Meskipun ada beasiswa, namun hal ini masih menjadi topik perdebatan antara siswa dan orang tuanya.

Selain melanjutkan ke Perguruan Tinggi, banyak siswa yang mengincar ikatan dinas. Sekolah ini masih menjadi favorit sebagian pelajar karena peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang tinggi setelah lulus.

Banyak dari mereka yang mulai terlihat stress dengan beban pikiran yang begitu banyak. Fokus pikiran mereka menjadi terpencar-pencar. Mereka takut dan khawatir jika tidak bisa melaksanakannya dengan baik. Tidak jarang banyak siswa yang persiapannya dirasa sudah matang namun pada saat mengerjakan soal mereka blank dan mendadak lupa ingatan. Semua terasa overload.

Bahkan beban pikiran itu bisa berpengaruh pada kesehatan jasmani siswa. Siswa yang terus menerus mendapat tekanan yang banyak akan menjadi kurus karena mereka terlalu banyak berfikir. Mereka melakukan kegiatan ekstra untuk belajar. Seperti sekolah dari pukul 07.00 sampai pukul 15.30. Belum lagi ada beberapa siswa yang masih melanjutkan di bimbingan belajar yang mungkin bisa sampai pukul 18.00. Malamnya mereka pun melanjutkan untuk menyelesaikan berbagai tugas yang menumpuk. Belum lagi di hari Sabtu atau Minggu, banyak siswa mengikuti try out di luar sekolah demi mengasah kemampuan diri lebih baik lagi.

Begitulah gambaran yang dirasakan anak kelas XII. Untuk pejuang UN dan SBMPTN, kita harus tetap semangat dan meninggalkan segala bentuk rasa malas. Tak lupa berdoa dan berserah diri kepada Tuhan. Berusaha se-maksimal mungkin dan menggunakan waktu yang sebaik-baiknya agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.

Andriani Dian Rawinanda, siswa kelas XII IPS 1 SMA Negeri 3 Salatiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *